Ibu Wati Adji

Wati Adji Yufeto

Ny. Wati Adji, berpengalaman sebagai koki di Kyodo, Tokyo, JPN (1979-1981).

Yukie, Fery, dan Tony adalah nama-nama ketiga anak dari Ibu Hendrawati Adji yang dijadikan inspirasi dalam membuat sebuah usaha jasa catering yang bernama “Yufeto”. Kecintaan seorang ibu yang berusaha dengan keras untuk membantu suami dan membesarkan anak-anaknya dengan memulai usaha “rantangan” kecil – kecilan. Mahasiswa yang kost dirumahnya menjadi awal konsumen dari usaha “rantangan”.

Tahun 1972 adalah awal dalam membuat usaha “rantangan” kecil – kecilan, konsumennya selain mahasiswa yang kost, karyawan Bank BNI dan Bank Panin cabang Bandung pada saat itu sering memesan “rantangan” dari Ibu Wati. Sampai dalam 1 hari beliau bisa membuat minimum 100 “rantangan”. Melelahkan tentunya, menerima order sebanyak itu hanya dengan tenaga seorang ibu yang kadang – kadang dibantu oleh suami dan ketiga anaknya yang masih kecil – kecil.

Tahun 1979, usaha “rantangan” itu harus berhenti dikarenakan Ibu Wati harus hijrah ke Jepang untuk menyusul suami yang sedang melanjutkan studi sambil bekerja disana. Di Jepang, beliau bekerja pada restoran Jepang setempat. Karena bakat dan hobby memasak, beliau belajar membuat masakan Jepang dibantu oleh para koki yang bekerja direstoran itu.

Tahun 1983, pulang kembali ke Indonesia bersama keluarga. Dengan berbekal ilmu memasak yang didapatkan di Jepang, beliau memutuskan untuk melanjutkan usaha yang dulu pernah dirintisnya selama 8 tahun. Bukan usaha “rantangan”, tetapi usaha yang lebih besar lagi yaitu usaha Catering. Yufeto Catering adalah nama yang dipilih sebagai nama perusahaannya.

Adalah Tante Rosie, seorang kerabat keluarga yang kala itu akan menikahkan anaknya di gedung Cahaya Garuda Bandung yang menjadi klien pertama usaha cateringnya. Saat itu jumlah order yang dipesan sebanyak 2000 pax dengan menu yang menjadi andalan adalah Sukiyaki dan Yakiniku. Untuk menghadapi order tersebut beliau dibantu oleh keluarga, kerabat, dan para tetangga karena pada saat itu belum mempunyai pegawai tetap.

Dikarenakan belum berpengalaman dalam mengelola keuangan untuk order dengan partai “besar” beliau terpaksa “mengutang” ke supplier “Meditrend” dengan jumlah yang cukup besar. Hal tersebut tidak membuat semangat beliau pupus, malah semakin menggebu-gebu. Ternyata kerugian tersebut membawa hasil yang positif karena setelah kejadian itu semakin banyak klien yang tertarik untuk menggunakan jasa beliau.

Berkat ketekunan beliau dalam menjalankan usahanya, Yufeto Catering terus bertahan dan berkembang hingga saat ini.